SUMEKAR.ID.SUMENEP – Prestasi internasional kembali diraih pelajar Kabupaten Sumenep. Dua siswi SMAN 1 Sumenep sukses membawa pulang Bronze Award dalam kompetisi Young Inventor Challenge (YIC) 2026 di Malaysia.
Dua siswi tersebut adalah Cameela Ahmad dan Shaheza Aleesha Risky. Keduanya menjadi delegasi Indonesia dalam ajang inovasi yang diselenggarakan Association of Science, Technology and Innovation (ASTI) Malaysia.
Keberhasilan ini sekaligus mempertegas potensi pelajar daerah untuk bersaing di tingkat global. Cameela dan Shaheza lolos seleksi Puspresnas Kemendikdasmen.
Keduanya memperoleh kesempatan tersebut setelah mencatatkan prestasi dalam Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional pada tahun sebelumnya.
Cameela merupakan siswi kelas XII-F8, putri pasangan A. Farid dan Enza Resdiana, warga Desa Andulang, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep.
Sementara itu, Shaheza merupakan siswi kelas XI-F8, putri Mufti Syaifuddin yang berdomisili di Kelurahan Pandian, Kecamatan Kota Sumenep.
Penghargaan internasional tersebut diraih melalui proses panjang. Keduanya menjalani pembinaan intensif untuk mematangkan kemampuan penelitian dan inovasi sebelum mengikuti kompetisi.
Persiapan diawali dengan seleksi prapembinaan secara luring. Selanjutnya, mereka mengikuti Pelatnas I yang difokuskan pada penyusunan serta pengiriman proposal penelitian.
Pada Pelatnas II yang berlangsung secara daring, kedua siswi melaksanakan penelitian. Mereka juga menyusun dan mengirimkan laporan hasil penelitian.
Tahapan persiapan kemudian berlanjut melalui Pelatnas III secara luring di Jakarta. Program tersebut menjadi bagian akhir pembinaan sebelum mengikuti YIC 2026.
Selama proses pembinaan, Cameela dan Shaheza mendapat pendampingan Prof. Dr. Ir. Tineke Mandang, M.S. Pendampingan mencakup tahapan penelitian hingga presentasi.
Kepala Cabang Dinas Pendidikan Jawa Timur Wilayah Sumenep, Dr. Rusliy, M.Pd., mengapresiasi capaian kedua siswi tersebut. Prestasi itu dinilai membanggakan.
“Prestasi Cameela dan Shaheza membuktikan bahwa pelajar Sumenep memiliki potensi, kemampuan, serta daya saing untuk tampil dan berkompetisi di tingkat internasional,” kata Dr. Rusliy, Jumat (6/11/2026).
Menurut Rusliy, penghargaan tersebut tidak boleh berhenti sebagai pencapaian individu. Keberhasilan itu harus menjadi dorongan bagi pelajar lain untuk terus berinovasi.
Dia juga mendorong siswa agar memperkuat budaya belajar, meningkatkan kreativitas, serta berani mengikuti kompetisi. Bidang penelitian dinilai memiliki peluang besar.
Dr. Rusly mengingatkan para pelajar agar tidak cepat berpuas diri. Pengembangan kemampuan dan keberanian mengeksplorasi potensi harus terus dilakukan secara konsisten.
“Anak-anak harus berani mencoba, berkompetisi, dan melahirkan gagasan baru. Keterbatasan daerah bukan penghalang untuk meraih prestasi hingga tingkat dunia,” tegasnya.
Dia turut meminta sekolah dan tenaga pendidik memperluas ruang pengembangan potensi siswa. Pembinaan berkelanjutan diperlukan untuk mencetak generasi unggul.
“Harapannya, prestasi ini tidak berhenti pada Cameela dan Shaheza. Kami ingin semakin banyak pelajar Sumenep berprestasi di tingkat nasional maupun internasional,” pungkas Dr. Rusliy.
Capaian Bronze Award YIC 2026 menjadi bukti bahwa kualitas pendidikan daerah memiliki peluang bersaing secara global. Prestasi ini turut mengangkat nama Indonesia.















Tidak ada Respon